FilmNomine 2010: Hari-Hari Terakhir Bung Karno: Avisarti Film: Beasiswa Ala Bajo: Metro TV: Cahaya Air Batang Uru: Rumah Ide Radio Rimba Raya: Kancamara Serupa Tapi Tak Sama: Rumah Ide 2011: Donor ASI: Ani Ema Susanti: Cerita dari Tapal Batas: Wisnu Adi Metamorfoblus: Dosy Omar Lampion-Lampion: Dwitra J. Ariana Penjara dan Nirwana: Daniel Rudi Haryanto: 2012 FestivalDokumenter Budi Luhur (FDBL) mempunyai visi menjadi ajang kompetisi dan Audio Visual Library untuk Kearifan Lokal Asia Tenggara. Ajang kompetisi film dokumenter ini terbagi menjadi tiga TERBAIK1 Film Dokumenter "Festival Film Puskat ke 6". Bulan desember 2020. Diraih Oleh Nanda Taufik Hidayat XII MMA - TIM Candradimuka Production. Jurusan Multimedia SMK N 1 Gombong. (UTS) 2018-2019 pada tanggal 24 September Download. Validasi Data Pengembangan Aplikasi Daftar12 Film Indonesia yang Mendunia, Bikin Bangga! Banjir penghargaan! Tahun ke tahun industri perfilman Indonesia terlihat semakin maju. Terbukti dari beberapa film yang terus rilis setiap tahunnya. Tidak hanya rilis di tanah air, berbagai film Indonesia itu pun bahkan muncul di luar negeri lewat festival-festival bergengsi. . Prescon festival film dokumenter 2018/Karni Narendra - Agenda tahunan FFD Festival Film Dokumenter kembali digelar pada 5-12 Desember 2018 di dua tempat yaitu di Taman Budaya Yogyakarta dan IFI LIP Yogyakarta. Memasuki usia yang ke-17 FFD tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, di mana selalu mengangkat tema khusus. Tahun ini FFD tidak mengangkat tema yang spesifik. Hal tersebut merupakan upaya untuk menghidupkan kembali semangat awal FFD dalam mengamati perkembangan dokumenter sebagai refleksi sosial dan media edukasi, yaitu merekam yang tersisa, mencari yang tak terlihat, dan menemukan pengetahuan. Uki Satya Festival Director dalam konferensi pers 28/11 di IFI-LIP Sagan menjelaskan selama 17 tahun FFD telah mengalami berbagai macam program dan sering mengalami pergeseran,”apa sih esensi kita FFD mampu bertahan selama ini? Cara kita memandang documenter ini seperti apa?,” ujarnya. “Dokumenter sebagai medium yang tidak hanya memberikan tontonan tetapi isu-isu apa yang sedang aktual di sekitar kita dan isu-isu apa yang harus kita soroti?” jelasnya lebih lanjut. Agenda utama dalam FFD 2018 diantaranya pemutaran kompetisi dan non kompetisi, diskusi dan presentasi, ekshibisi, dan ini FFD menerima 118 film kategori dokumenter panjang internasional, 100 film kategori dokumenter pendek, dan 23 film kategori dokumenter pelajar. Kompetisi tahun ini melibatkan beberapa Juri kawakan yang berasal dari dalam negeri dan luar negeri. Juri yang terlibat dalam film dokumenter panjang diantaranya Wakai Makiko programmer Yamagata International Film Festival, Nicolas Boone Filmmaker Perancis dan Bonnie Triyana Sejarawan Indonesia. Di kategori film pendek melibatkan tiga juri yaitu Mandy Marahimin Produser Tanakhir Films, Aryo Danusiri filmmaker Indonesia, dan Fan Wu programmer Taiwan International Documentary Festval dan beberapa juri yang lainnya. Sedangkan agenda pemutaran film non kompetisi akan dibagi dalam 13 program, yaitu perspektif, spektrum, Retrospektif, The Feelings of Reality, Taiwan Documentary, Polish Docs, Looking After the Family, A Play of Perspective, Fragmen kecil Asia, Human, Frame by Frame, DocSound, Lanskap, Le Mois du Documentaire, dan spesial screening Talking Money. Place Yogyakarta, IndonesiaWebsite ffdjogjaTwitter –Instagram ffdjogja About Festival Film Dokumenter FFD is an annual event held by Forum Film Dokumenter, a non-profit organization based in Yogyakarta, focusing on documentary film research and archiving, as well as film appreciation for educational purposes. Articles 07/08/2021 – Festival Film Dokumenter – Call for Entry 2021 Call for Entry 05/12/2020 – Festival Film Dokumenter – Call for Entry 2020 Call for Entry 07/07/2019 – Festival Film Dokumenter – Call for Entry 2019 Call for Entry 10/17/2018 – Festival Film Dokumenter Film Criticism Workshop – Call for Applications Call for Applications 05/07/2018 – Festival Film Dokumenter – Call for Entry 2018 Call for Entry Go back to the Active Festivals KUTA, BALI - Head of Forum Film Dokumenter, Festival Film Dokumenter, Henricus Pria, melihat ekosistem film dokumenter di Indonesia saat ini terus tumbuh. Hal ini didorong dengan munculnya berbagai festival film dokumenter di Indonesia, salah satunya Docs By The Sea, yang tengah diselenggarakan di Kuta, Bali, dan merupakan gelaran kedua setelah tahun lalu digelar."Platform-platform seperti Docs By The Sea ini salah satu cara untuk memulai running industri," kata Pria kepada Antaranews di Kuta, Bali, Kamis 9/8.Docs By The Sea 2018 yang berlangsung 2-9 Agustus 2018, diawali dengan program inkubasi selama empat-hari yang meliputi Storytelling Lab, Editing Lab, Pitching Exercise dan Masterclass. Program seperti ini juga dihadirkan oleh Festival Film Dokumenter untuk mendorong para pembuat film dokumenter agar mencapai pasar yang lebih luas."Platform seperti ini nantinya bisa menarik investor, produser-produser dari luar untuk bisa produksi film dokumenter di Indonesia," ujar Pria. Distribusi film dokumenter, menurut Pria, sebagian besar masih melalui festival film. Sementara, televisi sebagai media, biasanya melakukan produksi film dokumenter sendiri. Sementara itu, Pria melihat, produksi film dokumenter sendiri saat ini terus meningkat. Hal itu dilihat dari semakin banyak karya film dokumenter yang masuk dalam Festival Film Dokumenter."Tapi memang kalau dari segi nama secara perkembangan enggak terlalu banyak, terkadang kita masih melihat nama-nama lama, yang sebenarnya cukup lambat perkembangannya," kata Pria optimistis dengan regenerasi pembuat film dokumenter. Pasalnya, saat ini telah banyak institusi pendidikan yang menghadirkan program khusus untuk pembuatan film film dokumenterSaat ini, film dokumenter masih dianggap membosankan. Secara umum, masyarakat masih menjadikan tontonan film dokumenter yang ada di televisi, yang sebagian besar membahas film dokumenter sejarah, sebagai referensi film dokumenter film dokumenter bisa saja mengangkat kisah percintaan seseorang seperti karya sineas Vietnam "Never Been Kissed" yang masuk dalam Docs By The Sea, atau mengangkat isu lingkungan hidup tentang sampah plastik, yang coba disuarakan filmmaker Indonesia dalam "The Poly Bag Journal" di Docs By The Sea."Tantangan film paling dasar itu memang untuk memfamiliarkan . Ada banyak dokumenter alternatif, atau bentuk dokumenter dalam bentuk yang banyak, katakanlah di belahan dunia yang lain sudah banyak mulai menggunakan medium Virtual Reality VR," ujar video on-demand yang sedang populer saat ini, menurut Pria, juga cukup membantu film dokumenter untuk lebih dekat dengan penonton. "Digital platform saya melihatnya positif saja, artinya itu menjadi salah satu perkembangan teknologi yang sebenarnya malah kemungkinan memudahkan teman-teman mengakses berbagai konten," kata depannya, Pria mengatakan bahwa Festival Film Dokumenter juga akan mendorong film dokumenter ke platform digital. "Dalam 2-3 tahun ke depan kita akan memulai semacam FFD untuk platform akses Arsip atau kita coba bikin streaming reguler tapi yang via website," ujar Pria. sumber AntaraBACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini - Perhelatan tahunan Festival Film Dokumenter FFD 2018 resmi berakhir. Festival yang dimulai dari 5 hingga 12 Desember 2018 itu digelar dengan agenda pemutaran film program, pemutaran film peserta kompetisi, diskusi, peluncuran program baru, lokakarya kritik film hingga pameran dan ekshibisi di dua lokasi; Taman Budaya Yogyakarta dan IFI–LIP penganugerahan dan penutupan menjadi rangkaian akhir dari gelaran FFD, yang diadakanpada Rabu 5/12 di Gedung Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta. Pengumuman pemenang dari tiga kategori kompetisi dipimpin Direktur Forum Film Dokumenter, Henricus Pria Setiawan. Dalam kesempatan ini, Henricus menyampaikan, film kompetisi merupakan ajang bagi pembuat film untuk membagikan perspektif serta pandangan kritis terhadap isu-isu di sekitar mereka. Seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Tirto, Kamis 13/12/2018, tahun ini FFD menerima 118 film kategori panjang internasional, 100 film kategori pendek, dan 23 film kategori pelajar. Pemenang Kategori Pelajar diraih oleh film berjudul Tarian Kehidupan 2018 karya Naira Capah dan Fauzan Syam Adiya. Alexander Matius, salah satu juri kategori pelajar menyampaikan beberapa catatan bagi finalis. Menurut juri, secara umum pilihan topik kategori pelajar cukup beragam dan menarik, namun masih memerlukan fokus, kelugasan serta perspektif yang lebih dalam. “Pemenang dipilih karena berhasil merespons isu yang dekat dengan pelajar itu sendiri dengan pengemasan yang eksploratif dan menarik. Selain memberikan gambar yang menarik dan tepat guna, filmmaker juga memperhatikan permainan suara dalam film tersebut,” ujar Alexander ini, tidak ada pemenang dalam kategori Dokumenter Pendek. Adrian Jonathan Pasaribu,mewakili juri yang berhalangan hadir, menyampaikan beberapa catatan mengenai para peserta.“Juri menemukan adanya kesamaan cara bercerita, serta tidak cukupnya eksplorasi bahasa sinema di kelima film nominasi. Kelima film memiliki topik yang menarik namun belum bisa meyampaikancerita secara utuh. Pembuat film harus memperhatikan eksplorasi gaya dan cara bercerita dalamproses kreatif nya. Oleh sebab itu kategori film pendek terbaik tidak diberikan pada tahun ini,” jelas Adrian. Namun juri memberikan penghargaan lainnya berupa Special Mention Jury Awards kepada film The Nameless Boy 2017 karya Diego Batara. Pertimbangan juri dalam memberikan penghargaan ini karena The Nameless Boy mencoba untuk mengeksplorasi gaya penceritaan yang berbeda, meski demikian film ini dirasa masih perlu menguatkan penyampaian isu yang film panjang internasional terbaik diraih oleh film asal Filipina In The Claws Of CenturyWanting 2017 karya Jewel Maranan. Mewakili para juri yang berhalangan hadir, Amerta Kusumamenyampaikan catatan juri untuk pemenang film kategori panjang. “Film ini menangkap realitas dari masyarakat yang hidup dalam keberanian walau hidup terasing dari akses mata pencaharian mereka. Sisi lain dari realitas tersebut hadir melalui ambisi sutradara dan sudut pandang obsesif serta editing yang radikal,” ungkap penutup, direktur FFD 2018, Ukky Satya Nugrahani menyampaikan beberapa hal yangperlu digarisbawahi dalam perhelatan FFD tahun ini. Yang pertama, keberadaan festival sebagairuang dialog dan titik temu berbagai wacana dan perspektif tidak akan jadi tanpa antusiasmebanyak pihak. Kedua, akan terus dilakukan evaluasi baik secara penyelenggaraan maupun organisasional dan setiap program yang diadakan tahun ini maupun selanjutnya FFD akan lebihspesifik menarget penonton agar lebih tepat penutupan ini turut memutarkan film pemenang kategori dokumenter pelajar setelah pembacaan pemenang dilakukan. Film yang diputar adalah film dari Provinsi Nanggroe AcehDarussalam, Indonesia berjudul Tarian Kehidupan 2018. Film berdurasi 17 menit ini mengisahkan tentang seorang pelajar SMP yang harus menjadikan tarian sebagai sumber penopang ini adalah rekap dari pemenang kompetisi FFD 2018Kategori Dokumenter Pelajar Tarian Kehidupan 2018 karya Naira Capah dan Fauzam Syam Adiya dari IndonesiaKategori Dokumenter PendekTidak ada pemenangSpecial Mention Jury Award untuk Dokumenter PendekThe Nameless Boy 2017 karya Diego Batara dari IndonesiaKategori Dokumenter PanjangIn The Claws Of Century Wanting 2017 karya Jewel Maranan dari Filipina - Film Penulis Dipna Videlia Putsanra Editor Dipna Videlia Putsanra

festival film dokumenter 2018